Senin, 10 Mei 2010

Simpel.....^_^

Sudah sebulan aku ngojek (istilah keren dari mengantar jemput ibuku dari kantornya atau kemanapun aja).....

Tetapi hal yang kualami kemarin sangat berbeda dengan hari biasanya. Sewaktu menjemput "sang ratu" (istilah kerennya buat ibuku) di kantornya. Di depan pintu gerbang aku melihat seorang wanita yang sudah sepuh dengan jarik dan baju kebaya, sedang duduk ndlosor beralaskan tanah dan rumput..............Duh Gusti!!!

Yang menjadi pertanyaan dimana keluarganya??? kok tega ya cucunya???
Mereka gak tau apa ya sakitnya kehilangan nenek? guks teringat simbah putriku yang sangat njawani banget......

Mbok yo diopeni to simbah itu.........

Sambil memesan bakso tusuk aku bertanya dengan penjual bakso tersebut siapa simbahtersebut...apakah orang yang kurang waras (klo kurang waras jujur aja aku takut krna aku trauma dengan orang kurang waras) tp klo bukan sapa ya kira-kira?? tapi penjual bakso itu hanya menggeleng....

Antara ragu dan tidak aku terdiam...tiba-tiba sang ratu muncul dan mengajak pulang sambil membeli siomay mumer di seberang penjual bakso tusuk.....

"Tumben km gak traktir simbah itu na", tanya sang ratu

"Tadi Ratna tanya ma penjual bakso tusuk apa dia orang waras ato bukan, penjualnya gak tau. jadi Ratna takut deketinya (pelajaran berharga mau waras atau gak tetep wajib dibantu..hiks jadi merasa berdosa)."

Dengan melawan keraguanku dan tentunya menekan rasa takutku (takut klo bkn orang waras) akhirnya aku menghampirinay dan menawarkan bakso tusuk atau siomay mumer?

"Mboten den" (den adalah panggilan yang merupakan penghormatan yang amat sangat, biasanya diucakan dari pembantu untuk majikannya)..........

Hiks simbah itu memanggilku den....dan pastinya simbah itu berada dalam keadaan sadar yang amat sangat sempurna karena bisa mengucapkan sebutan itu!!! Dosanya aku berprasangka buruk tadi...Astagfirullah.T_T

"Seng Ndukani sinten mbah? Mboten wnten seng ndukani"

Setelah bernegosiasi (istilahnya menawarkan dengan sedikit membujuk) akhirnya simbah itu menunjuk ke arah bakso tusuk dan memesan hanya memakai kecap saja. Aku pun memesan bakso tusuk tersebut untuknya.

Dengan cekatan sang penjual melayani pesananku (yang aneh penjual itu tau apa porsinya padahal aku blm menyebutkan apa yang akan kubeli, aku hanya menyebutkan nominal saja)
itu sangat kontras dengan jawabannya saat kutanya apa penjual bakso itu mengenal simbah itu.

Dengan geramnya ku tanya, "Jadi simbah itu sudah pernah ada disini ya pak sampe bapak tau porsi bakso tusuk itu." Dan si penjual tidak bisa menjawab (entah malu ato sdh mati kutu)
Uhhhhhhhhhhhhhhhhhh...............jengkel tau gitu kan tadi aku bisa berlari ke warung sebelah memesan nasi rames yang lebih mengenyangkan.

Kuambil pesananku dan kuulurkan ke simbah itu dan diterima dengan sukacita sambil berualang kali mengucapkan Sembah Suwun den. Hikssssss.............hatiku nelongso lagi.

Kok gak ada yg ngopeni ya simbah itu dan yang menjadi pertanyaan kenapa si bapak penjual bakso tusuk itu harus berbohong padaku......dia gak tau klo aku sedang mengumpulkan banyak poimt untuk tiketku ke surga (memang terkesan egois tp klo bapak itu bilang dr awal tentunya aku bisa memberikan yang lebih baik....Subhanallah tp point itu itung2xan ma Allah...semoga Allah tau yang mana yang benar dan yang mana yang kurang benar)

Apapun itu yang jelas harus belajar menjadi lebih baik...^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar